Bali, todaysSpill.com
Di balik dinamika politik PDI Perjuangan Bali yang terus bergerak menuju 2025–2030, sorotan tak hanya tertuju pada kembali dikukuhkannya Dr. Ir. Wayan Koster sebagai Ketua DPD PDIP Bali, atau keutuhan dukungan struktural yang solid dari seluruh DPC. Ada figur perempuan yang diam-diam konsisten mengokohkan perannya, bukan karena nama, melainkan karena kerja yang tak pernah berhenti.
Ia adalah Ni Putu Cynthya Indraningsih, BA (Hons). Kembali dipercaya menduduki posisi Wakil Bendahara DPD PDIP Bali, figur ini menjadi wajah representatif dari generasi baru perempuan Bali yang tak menunggu momentum, tetapi membangun momentum itu sejak lama.

Lahir 7 Agustus 1990, Cynthya adalah putri dari almarhum I Made Sujana, BAE, tokoh senior PDI Perjuangan Badung. Namun kisahnya tidak dimulai sebagai “anak tokoh”.
“Saya mengenal PDI Perjuangan sejak kecil. Bukan sebagai partai, tapi sebagai rumah perjuangan.” ujar Ibu dengan tiga orang anak tersebut.
Pernyataan itu diucapkan tanpa niat memberi impresi. Justru terdengar sebagai refleksi.
Pendidikan tingginya ditempa di Glion Institute of Higher Education, Swiss, sekolah yang melahirkan generasi pewaris brand hospitality global. Tapi kepulangan Cynthya justru lurus, kembali ke Bali. Pulang bukan untuk cari panggung, melainkan menguatkan akar di Nirmala Group, usaha keluarga yang telah melewati kurva lengkap dunia usaha, merintis, jatuh, bangkit.
“Setiap pengusaha, tak kenal menyerah pasti punya cara dan seni untuk menikmati proses itu.” ucap perempuan ramah ini.
Cynthya tidak memosisikan diri sebagai pewaris kejayaan, tetapi penjaga kontinuitas.

Di politik pun, ia tidak hadir sebagai pelengkap. Sejak usia muda, ia sudah berkali-kali dipercaya menduduki jabatan inti, Wakil Bendahara, Bendahara, dan kini kembali Wakil Bendahara DPD PDIP Bali.
“Kepercayaan bukan datang dari nama, tetapi keberlanjutan integritas.”
Ia bicara tenang. Tidak mengutip jargon. Tidak mengemas diri dalam citra ideal. Justru karena itu, ia sulit ditebak. Visionernya otentik.
“Sebagai pengusaha juga kita harus bisa berpikir bagaimana kita menciptakan masa depan dengan harga sekarang.” katanya.
Bagi Cynthya, tantangan Bali ke depan bukan sekadar pariwisata.
“Yang utama adalah kualitas manusianya, dan keberanian memimpin perubahan tanpa kehilangan identitas budaya.” tegasnya.
Ia aktif dalam ekosistem budaya dan ekonomi kreatif, dari Lomba Barista Kopi Bali hingga Mixology Arak Bali, merangkai tradisi dengan ekonomi masa depan.

“Perempuan harus berani maju. Berani menghadapi masalah, karena selalu ada harapan di setiap kendala.” ajaknya.
Tidak heroik, tidak retoris, justru kuat karena jujur.
Cynthya Indraningsih adalah representasi perempuan Bali masa kini.
Bekerja sunyi. Selalu dalam proses. Tidak menunggu gelombang. Tetapi menciptakan arah. TS-01