Home Bali Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna di Desa Kutuh
BaliBudaya

Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna di Desa Kutuh

Simbol Harmoni Jagat Raya dan Diri

Share
Foto/Ist Puncak Karya: Foto-foto Prosesi Puncak Karya Ngenteg Linggih lan Pedudusan  Agung di Pura Desa, Desa Adat Kutuh.
Foto/Ist Puncak Karya: Foto-foto Prosesi Puncak Karya Ngenteg Linggih lan Pedudusan Agung di Pura Desa, Desa Adat Kutuh.
Share

Mangupura, todaysSpill.com
Pagi itu, angin selatan Badung berhembus pelan, membawa aroma berpadu dengan harum dupa dari halaman pura. Di Desa Adat Kutuh, suasana berbeda terasa sejak matahari baru saja mengintip di ufuk timur. Soma Pon Sinta, Senin (8/9/2025), menjadi hari yang lama dinanti,. Puncak karya Ngenteg Linggih, Tawur Walik Sumpah, dan Padudusan Agung Menawa Ratna.
Sejak pagi, krama desa berdatangan dengan busana adat terbaik. Di tengah keramaian, suara gamelan berpadu dengan kidung suci, menghadirkan getaran spiritual yang seolah merangkul setiap hati.


Sakralnya Prosesi

Prosesi dimulai dengan mengiring Ida Betara yang berstana di Pura Desa dan Pura Bale Agung menuju Jaba Sisi untuk pengarungan. Di sana, para pemangku dan pangempon pura dengan khidmat memimpin jalannya upacara. Persembahan suci kemudian berlanjut di Bale Pedanan, sebuah momen yang menandai puncak yadnya, disaksikan ratusan pasang mata yang hening dan penuh hormat.
Tiga sulinggih hadir sebagai Tri Sadaka, Ida Pandita Siwa, Ida Pandita Buda, dan Rsi Bujangga yang memimpin jalannya upacara dengan kidung suci. Suasana kian pekat oleh nuansa sakral, seolah batas antara dunia sekala dan niskala menghilang.

Makna Penyucian

Sebagai Manggala Utama Karya, Ketut Gita menjelaskan filosofi di balik Padudusan Agung Menawa Ratna.
“Dari sisi Buwana Agung, ini adalah penyucian Mandala Desa dan Mandala Pura. Sementara dari Buwana Alit, penyucian dilakukan dalam diri setiap krama. Dengan bersatunya keduanya, tercipta kerahayuan, keseimbangan, dan ketenangan jagat raya,” ujarnya.
Penyucian itu menjadi doa nyata umat Hindu Kutuh untuk menjaga harmoni alam semesta, dari proses utpeti (penciptaan), stiti (pemeliharaan), hingga pralina (peleburannya).

Antusias Krama

Di sela-sela prosesi, Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran rangkaian upacara.
“Krama mengikuti dengan penuh antusias, guyub, dan tulus ikhlas. Semua berjalan baik, sesuai harapan kami bersama. Semoga Ida Betara yang berstana di Pura Desa dan Pura Bale Agung senantiasa memberikan tuntunan, agar Desa Adat Kutuh tetap ajeg dan masyarakat diberkahi kerahayuan,” tuturnya.
Ia menambahkan, yadnya tidak berhenti pada satu upacara ini saja. Desa Adat Kutuh masih memiliki agenda ritual lain yang sudah terencana, sebagai upaya menjaga keseimbangan sekala dan niskala.

Baca Juga:  Temu Wirasa Bersama PKK dan Kader Posyandu Se-Desa Darmasaba

Perjalanan Belum Usai

Meski puncak karya telah berlangsung, rangkaian upacara masih berlanjut. Usai prosesi inti, krama desa bersiap menuntaskan tahapan lain, penganyaran, makebat daun, pangremekan, Rsi Bojana, hingga Nyenuk, sebelum ditutup dengan penyineban pada 13 September 2025. Setiap detail dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga kesempurnaan yadnya.

Warisan Leluhur yang Hidup

Bagi masyarakat Desa Kutuh, Padudusan Agung Menawa Ratna bukan sekadar kewajiban adat. Ia adalah warisan leluhur yang hidup, diwariskan lintas generasi, mengikat tua dan muda dalam satu ikatan spiritual. Upacara ini mengingatkan bahwa keseimbangan hidup bukan hanya soal hubungan manusia dengan sesama, tetapi juga dengan alam dan Sang Pencipta.
Di bawah naungan langit biru dan debur ombak yang terus bersahut-sahutan, Desa Kutuh kembali meneguhkan dirinya, sebuah desa adat yang kokoh berdiri, menjaga harmoni buwana agung dan buwana alit, demi kerahayuan jagat. TS-01

Share

Don't Miss

Badung Borong Gelar Juara Turnamen Kriket Piala Bupati

Jimbaran, todaysSpill.com Tim kriket Kabupaten Badung menunjukkan dominasinya dalam Turnamen Kriket Piala Bupati Badung yang berlangsung di Lapangan Kriket Universitas Udayana (Unud), Jimbaran,...

Rip Curl Cup Ke-23 Jadi Panggung Peselancar Indonesia Unjuk Gigi di Kelas Dunia

Pecatu, todaysSpill.com Rip Curl Cup Padang Padang bukan sekadar kompetisi selancar internasional, tetapi telah menjadi panggung yang membuka jalan bagi peselancar Indonesia untuk...

Related Articles

HUT ke-57 ST Dharma Pertiwi Pecatu Berlangsung Meriah, Dimeriahkan KISS BAND, Oka Liku x Gek Rempong hingga DJ Performance

Pecatu, todaysSpill.com Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 Sekaa Teruna (ST) Dharma...

Dirjen Kemendagri Kagumi Inovasi Desa Pecatu, Layak Jadi Contoh Nasional

Pecatu, TodaysSpill.com Inovasi Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, dalam mengolah sampah...

Air Mata dan Doa untuk Korban Bom BaliGround Zero Tempat Duka dan Harapan Perdamaian Bertemu

Kuta, todaysSpill.com Air mata tak terbendung ketika bunga diletakkan untuk mengenang para...

Pembangunan Rampung, Pura Ibu Panti Dukuh Bualu Gelar Karya Agung

Bualu, TodaysSpill.com Setelah melalui proses pembangunan sejak 2023 hingga rampung pada 2025,...