Badung, todaysSpill.com
Desa Adat Kutuh kembali menjadi pusat perhatian pada Sabtu (13/9/2025). Ribuan warga tumpah ruah di Catus Pata, jantung desa, mengikuti prosesi Nyenuk, salah satu rangkaian utama Karya Ngenteg Linggih lan Padudusan Agung Menawa Ratna. Suasana meriah bercampur khidmat, menegaskan bahwa tradisi masih menjadi nadi kehidupan masyarakat setempat.

Prosesi Nyenuk ini tak sekadar ritual, melainkan pertunjukan budaya sarat makna. Warga terbagi dalam lima kelompok besar, masing-masing mengenakan busana dengan warna khas, putih, kuning, merah, hitam, dan manca warna. Setiap warna melambangkan arah mata angin serta keseimbangan unsur alam semesta, sebuah simbol filosofi hidup orang Bali yang senantiasa menempatkan harmoni sebagai pusat kehidupan.

Dari arah berbeda, tiap kelompok bergerak menuju Catus Pata. Mereka menari, diiringi gamelan, dan membawa persembahan hasil bumi seperti padi, buah-buahan, hingga hasil panen lain. Bagi warga Kutuh, rangkaian ini adalah wujud syukur atas kelancaran karya agung, sekaligus doa agar desa tetap diberkati kesuburan dan kemakmuran.

Tak hanya parade, aksi teatrikal warga menambah semarak. Dengan gaya masing-masing, mereka menghadirkan cerita tentang kegembiraan, keuletan, dan ketulusan. Prosesi lalu berlanjut ke Pura Desa untuk sembah bakti kepada Ida Dalem Sidakarya, disambut iringan gamelan yang membuat suasana kian sakral.
“Setelah Nyenuk, rangkaian berlanjut dengan Bhakti Penganyar, Nueh Bagia Pula Kerti, Rsi Bojana, hingga Penyineban. Kami berterima kasih kepada seluruh krama dan para pemangku yang dengan tulus ngayah,” ungkap Ketut Gita, Manggala Utama Prawartaka Karya.

Makna spiritual karya juga ditegaskan oleh Jro Mangku Made Sukantra, pemangku Pura Desa lan Bale Agung. Menurutnya, yadnya ini adalah bentuk bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur, serta doa agar tercipta keseimbangan antara buana agung (alam semesta) dan buana alit (diri manusia).
Hal senada disampaikan Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir, yang berharap karya ini menjadi berkah kerahayuan dan kemakmuran bagi seluruh krama desa. Sementara itu, Ida Pandita Empu Nabe Jaya Wijaya Ananda selaku Yajamana Karya, menekankan arti kebersamaan dalam ngayah. “Semoga Desa Adat Kutuh semakin bersatu, kuat, dan dilimpahi kerahayuan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar upacara, Nyenuk di Kutuh adalah ruang kebersamaan. Di sini, anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam pengabdian yang sama. Tradisi ini mengajarkan bahwa harmoni hanya bisa dicapai bila manusia menjaga hubungan selaras dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.
Di tengah derasnya arus modernisasi, prosesi Nyenuk menjadi pengingat: warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijalani—agar identitas dan kebersamaan tetap terjaga lintas generasi. TS-01
