Home Bali Ngaben Massal di Desa Adat Pecatu Diikuti Sebanyak 92 Sawa
BaliBudaya

Ngaben Massal di Desa Adat Pecatu Diikuti Sebanyak 92 Sawa

Share
Foto/Ist Ngaben Massal: Puncak Ngaben Massal Desa Adat Pecatu yang disambut antusias krama..
Foto/Ist Ngaben Massal: Puncak Ngaben Massal Desa Adat Pecatu yang disambut antusias krama..
Share

Mangupura, todaysSpill.com
Karya Pitra Yadnya atau Ngaben Massal kembali dilaksanakan di Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan (Kutsel), Badung.
Ngaben Massal Pranawa Utama kali ini juga  dirangkai dengan
dengan Karya Manusia Yadnya (Metatah) dan Atwa Wedana (Nyekah) Maliga Punggel.
Puncak Ngaben dilaksanakan, Senin (23/6/2025).
Prawartaka Karya, Made Astra, memaparkan, Karya Pitra Yadnya dan Manusia Yadnya serta Atma Wedana di  tahun 2025 ini diikuti oleh 92 sawa, ngelangkir 76 dan ngelungah 5 sawa.

Baca Juga:  Badung Kembali Raih Opini WTP

“Sekarang juga ada kelayu sekaran jadinya ngelungah menjadi 6 sawa,” imbuhnya.
Prosesi kegiatan kata dia, sudah berjalan sejak tanggal 16 Juni sampai dengan tanggal 2 juli dengan prosesi Nyegara Gunung.
“Puncak pengabenan dilaksanakan tanggal 23 Juni 2025 dan puncak upacara nyekah pada 28 Juni 2025. Pada upacara nyekah akan nyejer selama 3 hari,” jelasnya.
Terkait pembiayaan ngaben ini, lanjutnya, untuk biaya berasal dari LPD dialokasikan untuk masing-masing Sawa mendapat Rp 6,5 juta, dan Rp 3 juta dari desa adat serta dari desa dinas sebesar Rp 5 juta.
Sedangkan yang hanya ikut Nyekah mendapat Rp 3 juta yang sudah diserahkan oleh perbekel Desa Pecatu.
Sedangkan sisa pembiayaan seluruhnya di tanggung oleh desa adat. Ke depan diharapkan upacara ngaben ini tidak memberatkan krama, dan diharapkan semua bisa di tanggung oleh desa adat.

Baca Juga:  Mapepade Karya Agung di Pura Desa Kutuh, Kompak Dihadiri Wagub Bali dan Bupati Badung

“Untuk upacara ngaben kali ini diwakili oleh Yayasan Gases, dimana masing-masing Sawa kena biaya 20 juta. semua sarana upakara sudah di siapkan oleh Yayasan Gases,” pungkasnya.

Antusias: Krama Desa Adat Pecatu memadati Puncak Ngaben Massal yang dilaksanakan di Desa Adat Pecatu.

Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta ditemui di sela-sela prosesi Puncak Karya Pitra Yadnya tersebut mengungkapkan, tahun ini pihaknya memang kembali melaksanakan Ngaben massal yang pelaksanakannya adalah tiap 3 tahun sekali.
Ngaben Massal ini dilaksanakan oleh krama Pecatu atau luar desa pecatu yang juga diakomodir tetapi ada tahapan dan proses yang harus dilalui.
Khusus untuk krama Desa Pecatu dilaksanakan setiap 3 tahun sekali. Dimana terkait proses Ngaben Massal ini, Senin (23/6/2025) adalah puncaknya dan sebelumnya juga sudah ada tahapan yang telah dilakukan.
Rangkaian kegiatan sama setiap 3 tahunnya.
“Saya mencetuskan ide tahun ini ditambah dengan manusa yadnya. Sebelumnya tidak ada metatah, saya berpikir di griya saja kita ngiring, bagaimana kalau di desa. Astungkara di tahun ini yang mengikuti metatah lebih dari 100 orang,” paparnya.
Terkait dengan Ngaben kali ini, lanjut dia, ada ketentuan yang disepakati. Dimana sampai hari H, sepanjang belum jalan ke setra seperti hari ini yang baru saja meninggal mereka bisa ikut prosesi ini.
“Prosesnya kami sepakati kalau ngulapin askara dilaksanakan ke rumahnya, setelah itu baru bersama-sama,” imbuhnya.
Karya ini juga sambil mengedukasi apa yang menjadi Keputusan bersama, yakni krama yang punya nama atau yang belum lahir diwajibkan mereka punya Tabungan di LPD, sehingga mereka berhak dalam dana ngaben.
“Kami imbau terus untuk saling subsidi silang, sehingga yang ikut di sini punya Tabungan, dari desa juga kami subsidi yakni dari desa adat dan dinas,” ucapnya.
Sedangkan yang lainnya menjadi kewajiban mereka dan tidak mutlak gratis. Karena ada metetah, dimana ini merupakan utang orang tua untuk mengurangi sad ripu, pihkanya mengenakan sekadarnya sehingga nantinya doa dan utang orang tua terbayar.
“Harapan saya ke depan hal ini terbukti meringankan warga agar tetap di lanjutkan, masalah tingkatan yadnya sesuai dengan kemampuan. Jangan habis-habisan saat itu. Jangan dihabiskan semua, yang skala yang masih hidup menabung untuk kesehatan,” tegasnya sembari berharap ke depan kalau bisa lebih tertib dan semua hening tidak terganggu dan berjalan dengan baik, sehingga beragama ini tambah adat tidak sampai mengeluh.
“Ini semua modal kita, yasa kerti kita selam hidup dan karma kita yang akan menghantarkan kita. Ke depan berbuat baik sehingga yadnya ini pelengkap,” pungkasnya. TS-01

Share

Don't Miss

Bertahan Semalaman di Atas Karang

Kutsel, todaysSpil.com Malam panjang penuh ketegangan harus dilalui dua buruh proyek yang terjebak di bawah tebing setinggi sekitar 100 meter di kawasan Pura...

Tiket MotoGP Mandalika 2026 Laris Manis, Early Bird Sold Out dalam Sepekan

Jakarta, TodaysSpill.com Antusiasme masyarakat terhadap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika International Circuit terus meningkat. Seluruh tiket Early Bird dilaporkan habis...

Related Articles

Kripto Dinilai Punya Potensi Besar, Bali Jadi Pasar Strategis Adopsi Web3

Mangupura, todaysSpill.com Perkembangan aset kripto dan teknologi Web3 di Bali dinilai memiliki...

BPJS Ketenagakerjaan Bersama HDCI Perkuat Perlindungan 5.000 Ojol

Ungasan, todaysSpill.com BPJS Ketenagakerjaan terus memperluas perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi pekerja...

Bukan Sekadar Lomba, Pecatu Tanamkan Makna Kemerdekaan kepada Generasi Muda

Pecatu, todaysSpill.com Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta...

Bukan Sekadar Razia Vila, Puspa Negara Dorong Sensus Khusus dan Pembinaan Pelaku Usaha

Kuta, todaysSpill.com Penertiban vila yang diduga belum mengantongi izin di Kabupaten Badung...