Mangupura, todaysSpill.com
Suasana meriah tampak dalam
Perayaan Upacara Tumpek Kandang atau Uye di DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu, Desa Pecatu, Kuta Selatan (Kutsel), Sabtu (12/7) sore.
Berbeda dari sebelumnya, upacara Tumpek Uye kali ini lebih meriah.
Diawali dengan penampilan 100 penari pendet cilik dari pasraman Desa Adat Pecatu.
Selain itu, bukan hanya dua gebogan buah, Desa Adat bersama manajemen DTW Pecatu juga memberikan beberapa krat telor kepada ratusan monyet Uluwatu.
Ratusan monyet yang menyerbu buah dan telor ini mendapat sambutan antusias wisatawan.
Bahkan para wisatawan juga diberi kesempatan untuk berbaur memberikan buah atau telor kepada para monyet tersebut secara langsung.
Manajer Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu, I Wayan Wijana, memaparkan, upacara Tumpek Kandang menjadi salah satu bentuk pelaksanaan konsep Tri Hita Karana. Karenanya dilaksanakan secara rutin di DTW Uluwatu.
“Upacara Tumpek Kandang ini sebagai wujud rasa syukur kepada satwa, khususnya monyet di sini yang menjadi ikon DTW Uluwatu, selain daya tarik lainnya seperti tari Kecak, sunset, pura, dan panorama alam,” paparnya sembari menambahkan hal ini adalah bagian dari Tri Hita Karana, di mana pihaknya sebagai manusia harus taat dan berbakti kepada Ida Betara, menjaga hubungan dengan sesama, dan mencintai lingkungan.
Saat ini, sambung dia jumlah monyet yang ada di Uluwatu mencapai 650 ekor.
“Selain saat Tumpek Kandang, kami juga rutin memberi makan monyet-monyet di sini, tiga kali sehari. Dari sisi kesehatan kami juga rutin melakukan vaksinasi dan potong taring setiap 6 bulan sekali,” ungkap Wijana.
Di DTW Uluwatu juga terdapat satu monyet putih yang menjadi ikon. “Monyet putih ini kami rawat khusus karena warnanya langka, supaya wisatawan bisa melihatnya,” imbuhnya.
Sebagai antisipasi kaitannya kesehatan, pihaknya juga bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Unud, dan sudah memiliki sertifikat bebas rabies. “Termasuk anjing yang ada di sini juga kami vaksin,” pungkasnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta mengatakan Desa Adat Pecatu bersama pengelola DTW Uluwatu memang secara rutin melaksanakan Upacara Tumpek Uye atau kandang seperti krama Bali pada umumnya.
“Prosesi ini sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih serta penghormatan kepada satwa, khususnya monyet yang merupakan penjaga alami kawasan Uluwatu,” ucapnya.
Keberadaan ratusan monyet ini juga sebagai salah satu pendukung DTW Uluwatu yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia.
Untuk kali ini, diakuinya rangkaian kegiatan upacara memang berbeda dari sebelumnya.
Phaknya berinovasi agar pelaksanaan kegiatan tidak terkesan monoton dan tetap menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Uluwatu.
“Seperti janji saya setahun lalu, Tumpek Uye kali ini kami kemas lebih meriah. Kami hadirkan pementasan tari kolosal anak-anak pasraman dan seka tabuh sebelum atraksi Kecak yang rutin digelar pukul 18.00 Wita,” ungkap Bendesa yang juga anggota DPRD Badung tersebut.
Dia bersyukur karena antusiasme wisatawan sangat luar biasa.
:Pasraman Desa Adat Pecatu, menampung lebih dari 330 anak yang ada di Desa Adat Pecatu. Dimulai dari kelas 3 hingga kelas 6 SD seluruh sekolah yang ada. Untuk hari ini dipilih 100 penari untuk tampil membawakan Tari Pendet,” paparnya sembari mengaku menyadari kerena persiapan terbilang singkat, mungkin pelaksanaannya belum sempurna.
“Saya mengapresiasi semangat anak-anak dan dukungan orang tua sehingga membuat penampilan mereka begitu meriah. Ke depan kami akan terus berinovasi agar bisa melibatkan lebih banyak generasi muda dan menambah daya tarik wisata di Uluwatu,” katanya.
Ketua Sabha Yowana Desa Adat Pecatu, I Putu Chandra Riantama, menambahkan keterlibatan yowana sangat penting dalam menyukseskan pelaksanaan Tumpek Uye tersebut. “Kami berharap ke depan peran generasi muda tetap terjaga melalui semangat gotong royong dan inovasi agar adat dan budaya di Desa Pecatu bisa tetap ajeg dan lestari,” ucapnya.
Upacara Tumpek Kandang di Uluwatu kali ini juga dihadiri salah seorang influencer Ida Ayu Rajarani Cempaka yang akrab disapa King Cempaka.
King Cempaka juga ikut berbaur bersama wisatawan yang antusias memberi makan ratusan monyet yang ada di hutan kawasan DTW Uluwatu. TS-01