Badung, todaysSpill.com
Ruang sidang paripurna DPRD Badung tampak lebih hidup dari biasanya, Selasa (4/11/2025) siang itu.
Suasana yang biasanya kaku berubah menjadi perhatian penuh saat I Wayan Puspa Negara, Ketua Fraksi Partai Gerindra, berdiri menyampaikan pandangan umum fraksinya terhadap Ranperda APBD Badung 2026 dan Ranperda Pemberian Insentif serta Kemudahan Penanaman Modal.
Nada suaranya tegas, intonasinya terukur, dan diksi yang ia pilih terasa menggigit namun elegan.
“Ini bukan sekadar pandangan fraksi, tapi juga napas dari masyarakat Badung,” ucapnya lantang, membuka paparan yang kemudian menuai tepuk tangan dari sejumlah hadirin.
Tenaga ahli dan akademisi yang duduk di kursi undangan kompak menyebut penampilannya hari itu “cerdas, kritis, brilian, dan futuristik.”
Dan mungkin memang demikian adanya. Dalam politik, cara berbicara sering mencerminkan cara berpikir — dan Puspa Negara membuktikan dirinya tak hanya vokal, tapi juga visioner.
November Rain dan Peringatan Dini
Puspa Negara membuka pandangannya dengan gaya yang tak biasa. Ia meminjam judul lagu legendaris November Rain dari Guns N’ Roses sebagai pengingat bahwa bulan November adalah awal musim penghujan — sekaligus masa di mana kewaspadaan bencana harus ditingkatkan.
Dengan gaya bertutur khas orator publik, ia meminta Pemkab Badung menyiapkan early warning system, perahu karet, pompa portable, hingga crisis centre yang siaga 24 jam.
“Wilayah Samigita — Seminyak, Legian, dan Kuta — adalah jantung pariwisata, tapi juga paling rentan terhadap genangan dan banjir,” ujarnya.
Ia juga memberi apresiasi kepada Bupati Badung atas langkah pengerukan sedimentasi Tukad Mati sepanjang 5 kilometer. Namun, ia menambahkan dengan nada realistis, “Tambahkan alat berat, percepat pekerjaan, dan bersihkan semua saluran air. Musim hujan tak menunggu kita siap.” tegasnya

Kritis, Tapi Apresiatif
Sebagai legislator, Puspa Negara dikenal berani bersuara keras namun tetap memberi apresiasi di tempat yang tepat.
Dalam isu kenaikan NJOP dan PBB tahun 2025, ia menegaskan agar tak ada kenaikan lagi di tahun 2026 sesuai Permendagri No. 14/2025. Ia juga memuji sigapnya Plt. Kepala Bapenda Badung yang membantu masyarakat menurunkan nilai PBB dan menghapus denda bagi rumah tinggal nonkomersial.
Ketika menyinggung sewa aset Pemda di Pantai Tanjung Benoa, ia tampil membela kepentingan publik.
“Akses adat dan budaya adalah hak krama Tanjung Benoa. Itu ruang publik, bukan ruang yang bisa dipagari,” tegasnya, sambil mengutip UU No. 27 Tahun 2007 dan SK Bupati yang menegaskan hak desa adat atas pengelolaan pantai tersebut.
Menatap Pembangunan dari Perspektif Rakyat
Bagi Puspa Negara, politik bukan sekadar urusan regulasi, melainkan refleksi kebutuhan masyarakat.
Ia menyoroti tanjakan ekstrem di Jl. Goa Gong, Kuta Selatan, yang kerap memakan korban, dan meminta segera dilakukan penataan elevasi atau pembangunan jalan alternatif.
Isu alih fungsi lahan juga menjadi perhatian seriusnya. Dalam data yang ia kutip, sedikitnya 348 hektar lahan di Badung telah beralih fungsi sepanjang 2024.
“Kalau pemerintah tak bergerak membeli lahan hijau sebagai aset daerah, kita kehilangan paru-paru lingkungan,” katanya lugas.
Dari Ide Nasional ke Aksi Daerah
Sosok ini tak sekadar berpikir lokal. Ia mengaitkan kebijakan daerah dengan arah besar pemerintahan pusat.
Mendukung visi Presiden Prabowo Subianto, Puspa Negara mendorong Pemkab Badung mempercepat pelaksanaan program Trisula — Koperasi Merah Putih, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional sangat penting. Program besar harus sampai di meja makan rakyat,” ujarnya penuh keyakinan.
Ia juga memuji langkah Bupati Badung meluncurkan program “Satu KK Satu Sarjana” sebagai investasi jangka panjang di bidang SDM.
“Ini sejalan dengan semangat Gerindra. Pendidikan adalah fondasi kemandirian,” tambahnya.
Menyentuh Nilai Historis dan Estetika Kota
Uniknya, Puspa Negara tak hanya berbicara soal infrastruktur, tapi juga menyelipkan kepedulian terhadap sejarah dan budaya.
Ia mendukung penataan Ground Zero Kuta dan pengadaan lahan parkir baru di Samigita, namun juga mengusulkan agar Monumen Tuan Lange ditata kembali — mengenang Mads Johansen Lange, tokoh Denmark yang berjasa membangun Kuta sebagai kawasan perdagangan internasional di abad ke-19.
Baginya, pembangunan tak hanya berarti beton dan jalan. “Kita juga membangun ingatan, identitas, dan kebanggaan Badung,” katanya lembut namun penuh makna.
Antara Elegansi dan Ketegasan
Seiring rapat paripurna berakhir, pandangan Fraksi Gerindra yang disusunnya mendapat sambutan luas.
“Fraksi Gerindra menyetujui kedua Ranperda untuk ditetapkan menjadi Perda,” ujarnya menutup paparan, sebelum senyum tenangnya kembali merekah.
Tapi di balik tutur elegan itu, publik tahu: setiap kalimatnya selalu punya muatan kritik, visi, dan keberpihakan pada rakyat.
Figur yang Cerdas, Kritis, dan Cemerlang
Sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, Wayan Puspa Negara adalah representasi politisi yang berpikir jauh ke depan, tapi tetap berpijak pada realitas rakyat.
Ia dikenal komunikatif, terukur, dan berwawasan luas — sosok yang menggabungkan kecerdasan analisis, empati sosial, dan semangat kebangsaan.
Dalam setiap forum, ia bukan hanya berbicara tentang pembangunan, tapi juga tentang arah masa depan Badung:
“Pembangunan yang seimbang, adil, dan manusiawi,” ujarnya suatu kali.
Dan di sanalah letak kekuatannya: cerdas dalam berpikir, kritis dalam menyikapi, elegan dalam menyampaikan, serta cemerlang dalam visi. TS-01