Nusa Dua, todaysSpill.com
Di tengah gempuran pariwisata berbasis kemewahan, Desa Kedisan di Tegallalang, Gianyar justru menawarkan jalan berbeda: sawah organik, kompos, dan rumah burung hantu. Kini, desa ini tidak lagi hanya menjadi latar eksotik Bali, tapi tampil sebagai pemain utama dalam narasi pariwisata berkelanjutan yang dibawa oleh kawasan The Nusa Dua melalui program Green Journey.
Langkah nyata kolaborasi ini terlihat Selasa (29/7/2025) saat manajemen The Nusa Dua yang dikelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) berkunjung langsung ke Kelompok Tani Kedisan Mandiri. Dalam kunjungan itu, dua ekor sapi diserahkan sebagai bentuk dukungan konkret—sekaligus pembuka kemitraan jangka panjang dalam distribusi hasil pertanian organik.
“Ini bukan CSR biasa. Kami ingin membangun rantai nilai antara kawasan pariwisata dan desa,” ujar General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika. Ia menyebut, Kedisan punya semua elemen untuk menjadi destinasi green tourism otentik yang dicari wisatawan modern.
Dwiatmika menyebut, tren wisata saat ini bergeser ke arah yang lebih mendalam dan berkesadaran. Wisatawan tak hanya ingin menginap di hotel mewah, tetapi juga menyentuh kehidupan lokal yang nyata—memetik padi, membuat kompos, bahkan mengamati burung hantu sebagai pengendali hama alami.
Desa Kedisan sendiri telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2017.
Kepala Desa, Dewa Ketut Raka, menyambut sinergi ini sebagai bentuk keadilan baru dalam ekosistem pariwisata. “Kami tidak mau desa kami hanya jadi tempat foto-foto. Kami ingin tumbuh bersama, bukan ditinggal di belakang,” tegasnya. Pendapatan asli desa disebutnya meningkat 700 persen sejak fokus pada pelestarian lingkungan dan pariwisata berbasis komunitas.
Ketua Kelompok Tani, Putu Yoga Wibawa, menambahkan, dari 37 hektare lahan yang mereka kelola, baru 4 hektare yang tersertifikasi organik. Dukungan dari kawasan The Nusa Dua dianggap akan mempercepat perluasan praktik bertani organik sekaligus memperkenalkan nilai-nilai lokal ke tingkat global.
“Petani itu garda depan pelestarian alam. Tapi kami butuh dukungan nyata, bukan hanya tepuk tangan,” ujarnya.
Green Journey sendiri bukan sekadar slogan. The Nusa Dua juga membuka peluang untuk menyerap hasil pertanian lokal, dan bahkan menjadikan Kedisan sebagai bagian dari paket pengalaman wisata. “Kalau desa hidup, pariwisata juga punya akar. Ini tentang ekosistem, bukan sekadar transaksi,” tegas Dwiatmika.
Melalui kemitraan ini, The Nusa Dua dan Desa Kedisan sama-sama mengirim pesan: bahwa masa depan pariwisata Bali tak hanya dibangun dari beton dan vila, tapi dari sawah, semangat kolaborasi, dan keberanian untuk meredefinisi arti “maju” secara berkelanjutan. TS-01