Nusa Dua, todaysSpill.com
Usia muda tidak menjadi penghalang bagi I Made Dwi Mahardika untuk mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat. Justru, posisi sebagai Kelihan Adat Banjar Bualu menjadi ruang bagi pria yang akrab disapa Regen ini untuk membawa semangat baru sekaligus menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan kawasan Badung Selatan.
Sejak awal Januari 2026, Regen dipercaya memimpin Prajuru Banjar Bualu. Di usianya yang relatif muda, ia menjadi Kelihan Adat termuda di lingkungan Desa Adat Bualu. Amanah tersebut tidak hanya dipandang sebagai sebuah kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh komitmen.
Tantangan yang dihadapinya pun tidak ringan. Banjar Bualu merupakan salah satu banjar tertua di Desa Adat Bualu dengan jumlah mencapai 525 kepala keluarga. Di tengah jumlah krama yang cukup besar serta perkembangan kawasan pariwisata Badung Selatan, kebutuhan masyarakat juga terus berkembang.
Karena itu, sejak dipercaya memimpin, Regen menempatkan pembenahan fasilitas banjar sebagai salah satu perhatian utama. Salah satunya melalui rencana renovasi dan pembangunan Wantilan Banjar Bualu yang diharapkan dapat direalisasikan pada Tahun Anggaran 2027.
Bagi Regen, wantilan bukan sekadar bangunan fisik. Lebih dari itu, wantilan merupakan ruang bersama yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai kegiatan adat, sosial, kepemudaan hingga aktivitas kemasyarakatan lainnya dapat berlangsung di tempat tersebut.
Atas dasar itu, dukungan pemerintah terhadap pembangunan Wantilan Banjar Bualu mendapat apresiasi dari Regen dan masyarakat. Kehadiran Bupati Badung dalam perayaan Hari Ulang Tahun Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa Banjar Bualu dinilai menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap kehidupan masyarakat di tingkat banjar.
“Lebih dari sekadar hadir, komitmen beliau untuk turut membantu pembangunan Wantilan Banjar Bualu menunjukkan perhatian dan kepedulian Pemerintah Kabupaten Badung terhadap kebutuhan serta kemajuan masyarakat,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).
Regen berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat terus terjaga. Dengan dukungan tersebut, ia berharap rencana pembangunan wantilan dapat segera diwujudkan sehingga nantinya memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Banjar Bualu.
Namun, perhatian Regen tidak hanya berhenti pada persoalan internal banjar. Sebagai bagian dari kawasan Badung Selatan yang berkembang pesat sebagai kawasan pariwisata, ia juga melihat persoalan kemacetan sebagai salah satu tantangan yang harus mendapat perhatian.
Tingginya aktivitas wisatawan dan mobilitas masyarakat, menurutnya, ikut memberikan tekanan terhadap lalu lintas. Karena itu, langkah pemerintah dalam mencari solusi kemacetan dinilainya patut diapresiasi.
Menurut Regen, persoalan lalu lintas bukan semata menyangkut kenyamanan wisatawan. Kelancaran arus kendaraan juga berpengaruh langsung terhadap masyarakat yang setiap hari melakukan aktivitas di kawasan Badung Selatan.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian dan langkah Bapak Bupati dalam mencari solusi untuk mengatasi permasalahan kemacetan. Upaya ini menunjukkan komitmen serius Pemerintah Kabupaten Badung dalam menata wajah pariwisata,” katanya.
Ia pun berharap rencana pembangunan jalan lingkar selatan dapat segera direalisasikan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekaligus membantu memperlancar arus lalu lintas di kawasan Badung Selatan.
Di luar aktivitasnya sebagai Kelihan Adat Banjar Bualu, Regen juga dipercaya sebagai Ketua Komite SD No. 8 Benoa. Peran tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat, pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan.
Berbagai peran yang dijalankannya sekaligus menjadi ruang bagi Regen untuk mendorong kolaborasi antara masyarakat, pemerintah dan berbagai unsur lainnya. Baginya, pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat.
Sebagai pemimpin banjar yang masih tergolong muda, Regen kini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga nilai-nilai adat sekaligus merespons kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Di tengah perkembangan Badung Selatan yang semakin dinamis, ia memandang kehidupan adat dan pembangunan harus berjalan beriringan.
Pembangunan fasilitas banjar, peningkatan kenyamanan masyarakat hingga dukungan terhadap penataan kawasan menjadi bagian dari perhatian Regen dalam menjalankan amanahnya. Karena itu, sinergi antara prajuru, masyarakat dan pemerintah menjadi modal penting bagi Banjar Bualu untuk menghadapi perkembangan Badung Selatan ke depan. TS-01