Tanjung Benoa, todaysSpill.com
Tantangan sampah laut di Bali semakin serius seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan padatnya kawasan pesisir. Menyikapi hal ini, Yayasan Sahabat Multi Bintang (YSMB) bersama Seven Clean Seas (SCS) menghadirkan inovasi teknologi pengumpul sampah laut bernama OTTER (Offshore & Tidal Trash Elimination Rig).
OTTER, kapal khusus pengumpul sampah laut, mulai beroperasi sejak awal September 2025 di Sanur, Serangan, dan Benoa. Teknologi ini diharapkan mampu membantu mengurangi tumpukan sampah yang terbawa arus sungai maupun aktivitas wisata.

“Inovasi OTTER ini menjadi terobosan untuk mendukung gerakan menjaga laut Bali tetap bersih. Teknologi harus berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat,” jelas Roland Bala, Advisor YSMB sekaligus President Director Multi Bintang Indonesia.
Kehadiran OTTER diluncurkan bertepatan dengan aksi bersih pantai di Tanjung Benoa dalam rangka World Clean Up Day 2025. Sebanyak 105 relawan berhasil mengumpulkan 356 kilogram sampah, sebagian besar berupa plastik dan tumbuhan laut.

Joshua Kauten, Partnership Manager SCS, menekankan bahwa Tanjung Benoa sangat rentan terhadap penumpukan sampah karena berada di hilir sungai. “Padahal kawasan ini merupakan destinasi wisata internasional. Karena itu, pembersihan harus digiatkan dengan melibatkan berbagai pihak,” ujarnya.
Selain inovasi teknologi, kegiatan ini juga mengedepankan kolaborasi lintas komunitas. Mulai dari Karang Taruna, sekaa teruna teruni, pengusaha water sport, hingga relawan wisata ikut turun tangan membersihkan pantai.
Made Wijaya, Bendesa Adat Tanjung Benoa sekaligus pemilik Pandawa Watersport, menegaskan bahwa pembersihan pantai sudah menjadi budaya masyarakat lokal. “Kami rutin melakukan bersih-bersih setiap empat bulan sekali. Tapi tantangan semakin besar, sehingga diperlukan dukungan lebih luas. Jika laut bersih, pariwisata nyaman, masyarakat juga mendapat manfaat,” katanya.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, Bali menghasilkan lebih dari 1,16 juta ton sampah pada 2024. Kabupaten Badung menyumbang sekitar 17 persen dari jumlah tersebut, sebagian besar berasal dari kawasan pesisir yang padat wisatawan.
Deny Giovanno, Chairperson YSMB, menambahkan bahwa gerakan ini selaras dengan program Gerakan Bali Bersih Sampah. “Kami ingin menjadi bagian dari solusi. Kolaborasi, edukasi, dan inovasi teknologi adalah kunci untuk mengatasi krisis sampah,” tegasnya.

Dengan kombinasi aksi komunitas, dukungan adat, serta kehadiran teknologi OTTER, Bali diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah laut yang berkelanjutan sekaligus menjaga daya tarik pariwisata jangka panjang. TS-01