Mangupura, todaysSpill.com
Perkembangan aset kripto dan teknologi Web3 di Bali dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Selain didukung komunitas yang sudah mengenal kripto, karakter Bali sebagai destinasi internasional turut membuka peluang lebih luas bagi adopsi teknologi finansial digital tersebut.
Potensi itu menjadi salah satu perhatian BTSE Indonesia yang menggelar kegiatan Built for You Bali di Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Rabu (19/8/2026) sore. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian community meetup BTSE Indonesia di sejumlah kota di Indonesia.
SVP Marketing BTSE Indonesia, Rieka Handayani, mengatakan Bali memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah daerah lain. Interaksi masyarakat dengan wisatawan mancanegara membuat pemahaman terhadap perkembangan teknologi, termasuk Web3 dan blockchain, relatif lebih terbuka.

Kegiatan Built for You Bali di Jimbaran
“Kita melihat Bali ini bukan cuma international destination wisata. Di sini perkembangannya seperti teknologi, komunitas Web3, bahkan ada blockchain juga,” ujar Rieka ditemui di Jimbaran, Rabu (19/8) sore.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat komunitas kripto Bali dinilai cukup siap mengikuti perkembangan industri. Paparan terhadap wisatawan dari berbagai negara juga menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat lebih familiar dengan perkembangan ekonomi dan teknologi digital global.
“Bali termasuk yang paling ready dari segi komunitasnya. Masyarakatnya juga lebih matang karena sudah terpapar turis-turis dari luar dan lebih mengenal industri ini sebelumnya,” katanya.
Salah satu keunggulan aset kripto yang menjadi perhatian adalah fleksibilitas perdagangan karena pasar kripto beroperasi selama 24 jam. Namun, karakter tersebut juga diikuti pergerakan harga yang fluktuatif sehingga pemahaman terhadap aset menjadi hal penting sebelum melakukan transaksi.
Rieka menegaskan, kripto dapat menjadi salah satu pilihan instrumen investasi, tetapi masyarakat harus memahami aset yang dibeli dan tidak sekadar mengikuti tren atau ajakan di media sosial.
“Kripto itu kita harus belajar, harus paham, bukan cuma jual beli. Kita harus benar-benar paham kita beli aset apa,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan transaksi melalui platform yang legal. Menurutnya, pemahaman menjadi pembeda penting antara investasi kripto dengan aktivitas perjudian. Transaksi aset kripto seharusnya didasarkan pada pengetahuan mengenai aset dan analisis kondisi pasar, bukan semata-mata mengandalkan keberuntungan.
Dari sisi usia, Rieka menyebut investasi kripto dapat dimulai sejak usia 18 tahun. Sementara kelompok usia 25–45 tahun dinilai menjadi kelompok yang relatif lebih matang dalam berinvestasi.
Selain edukasi, kegiatan di Bali juga dimanfaatkan BTSE Indonesia untuk memperkenalkan platformnya kepada komunitas lokal. Saat ini jumlah pengguna BTSE Indonesia telah mencapai lebih dari 15.000 dan mendekati 16.000 pengguna sejak Juli. Jumlah tersebut ditargetkan dapat meningkat hingga dua kali lipat sampai akhir tahun.
Bali pun diharapkan mampu menjadi salah satu kota dengan jumlah pengguna BTSE Indonesia terbesar. Saat ini pengguna masih didominasi kota-kota besar di Pulau Jawa, terutama Jakarta dan Surabaya.
“Kalau untuk Bali, mudah-mudahan jadi kota kita yang ketiga. Sejauh ini masih dikuasai kota besar di Pulau Jawa. Surabaya, Jakarta masih menjadi pengguna kita yang paling besar sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Strategy Officer (CSO) BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, mengatakan kehadiran Coinfest Asia 2026 di Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi kripto dan Web3. Event tersebut dinilai membantu mempertemukan komunitas lokal dengan perkembangan industri yang lebih luas.
“Dengan adanya Coinfest di sini, adopsinya lebih mudah dan lebih mudah juga menjelaskan ke komunitas-komunitas di sini. Mereka sudah mengerti apa itu kripto,” katanya.

Kegiatan Built for You Bali di Jimbaran
Menurut Stephanie, keberadaan komunitas yang telah memahami dasar-dasar kripto menjadi modal penting bagi perkembangan ekosistem Web3 di Bali. Dengan fondasi tersebut, pengenalan terhadap berbagai pemanfaatan teknologi blockchain dan aset digital dinilai dapat dilakukan lebih mudah.
Sebelum Bali, BTSE Indonesia telah menggelar kegiatan serupa di Solo, Yogyakarta, Salatiga dan Semarang. Rangkaian community meetup tersebut akan terus berlanjut ke sejumlah kota lainnya hingga akhir tahun.
Dengan kombinasi komunitas yang semakin matang, paparan terhadap teknologi global dan status Bali sebagai salah satu pusat kegiatan Web3 di Indonesia, Bali berpeluang menjadi salah satu daerah penting dalam pertumbuhan ekosistem kripto nasional. TS-01