Nusa Dua, todaysSpill.com
Perubahan besar dalam penanganan sampah di Kuta Selatan ternyata tidak dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari pekarangan rumah warga. Di Banjar Celuk, Desa Adat Bualu, masyarakat kini menjadi motor utama gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber melalui program Teba Modern.
Gerakan ini menandai pergeseran pola lama, dari kebiasaan membuang sampah ke sistem akhir, menjadi budaya baru yang menyelesaikan persoalan sejak dari rumah tangga. Sampah organik kini tidak lagi dianggap limbah, melainkan diolah langsung menjadi kompos melalui fasilitas sederhana di halaman rumah.
Kelian Banjar Adat Celuk, Jro Mangku Ketut Murdana, mengungkapkan antusiasme warga melampaui ekspektasi. Dari 100 unit Teba Modern yang ditawarkan, sebanyak 70 unit sudah terealisasi dan aktif digunakan.
“Respons krama sangat luar biasa. Sekarang bahkan sudah masuk gelombang ketiga pendaftaran,” ujarnya.

Teba Modern sendiri merupakan inovasi berbasis kearifan lokal Bali yang mengembangkan konsep teba tradisional menjadi sistem komposter rumah tangga yang lebih terstruktur dan efektif. Pendekatan ini terbukti mampu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir.
Dukungan penuh datang dari Desa Adat Bualu yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp 66 juta. Bahkan, Camat Kuta Selatan turut turun langsung meninjau implementasi di lapangan sebagai bentuk apresiasi terhadap inisiatif warga.
Meski menghadapi tantangan biaya pembuatan sekitar Rp 400 ribu per unit, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama. Pihak banjar bahkan menerapkan sistem jemput bola dengan membantu distribusi material langsung ke rumah warga.
Lebih dari sekadar program lingkungan, gerakan ini telah berkembang menjadi budaya kolektif. Warga juga secara rutin menggelar aksi bersih kawasan, termasuk pembersihan mangrove setiap tiga bulan sekali.

Ke depan, gerakan ini akan diperluas dengan melibatkan pelaku usaha agar turut memilah sampah organik dan non-organik. Dari total 226 kepala keluarga, seluruhnya ditargetkan memiliki Teba Modern.
Banjar Celuk kini tidak hanya menjadi proyek percontohan, tetapi juga simbol perubahan, bahwa solusi persoalan sampah bisa dimulai dari kesadaran warga itu sendiri. TS-01