Home Bali Angin Timur Tekan Hasil Tangkapan, Nelayan Kelan Tetap Berjuang Hidupi Keluarga
BaliEkonimi

Angin Timur Tekan Hasil Tangkapan, Nelayan Kelan Tetap Berjuang Hidupi Keluarga

Share
Foto Istimewa Angin Kencang: Ketut Suwala bersama beberapa perahu miliknya yang digunakan nelayan untuk melaut di tengah musim angin timur. Meski cuaca kurang bersahabat, para nelayan tetap berupaya mencari nafkah dengan mengutamakan keselamatan.
Foto Istimewa Angin Kencang: Ketut Suwala bersama beberapa perahu miliknya yang digunakan nelayan untuk melaut di tengah musim angin timur. Meski cuaca kurang bersahabat, para nelayan tetap berupaya mencari nafkah dengan mengutamakan keselamatan.
Share

Kuta, todaysSpill.com
Musim angin timur tak hanya menjadi ujian bagi nelayan, Kelan, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, tetapi juga berdampak pada pasokan dan harga ikan di pasaran. Cuaca yang didominasi angin kencang dan gelombang tinggi membuat nelayan tidak leluasa melaut sehingga hasil tangkapan menurun, sementara sejumlah jenis ikan bernilai tinggi sulit dijangkau.
Meski demikian, aktivitas di Pasar Ikan Kedonganan tetap berlangsung normal. Sebagian besar pasokan ikan berasal dari luar Bali sehingga kebutuhan masyarakat masih dapat terpenuhi, meskipun harga ikan kini cenderung lebih mahal.
Pengambek (pemilik perahu) asal Kelan, Kedonganan, Ketut Suwala, mengatakan dalam beberapa pekan terakhir angin kencang menjadi tantangan utama bagi para nelayan. Mereka hanya berani mencari ikan di lokasi yang relatif dekat dari bibir pantai.
“Hari ini kami dapat ikan layur. Untung lokasi mencari ikannya dekat, di sebelah barat Bangsal Kuta. Dari pantai sekitar 30 menit sudah sampai, jadi masih aman,” ujarnya, Selasa (22/7/2026).

Baca Juga:  High-Level Meeting TPID Badung: Adi Arnawa Clarifies HBKN Assistance Is Not THR

Hasil tangkapan nelayan
Menurutnya, hasil tangkapan saat ini didominasi ikan layur dan cumi-cumi berukuran kecil. Kondisi tersebut membuat nelayan harus menyesuaikan daerah penangkapan karena tidak memungkinkan berlayar terlalu jauh ke tengah laut.
“Ikan layur masih banyak yang kecil. Untuk mencapai ukuran satu kilogram per ekor masih perlu waktu lama. Jadi kemungkinan musim layur ini masih akan berlangsung cukup lama,” katanya.
Suwala menjelaskan, ikan yang dijual di Pasar Kedonganan saat ini sebagian besar berasal dari luar Bali. Karena itu, aktivitas perdagangan tetap berjalan meski hasil tangkapan nelayan lokal terbatas.
“Ikan yang dijual di Pasar Kedonganan kebanyakan dari luar Bali. Jadi pasokan tetap ada, tetapi harga ikan sekarang memang agak mahal,” jelasnya.
Sementara itu, ikan layur hasil tangkapan nelayan Kedonganan justru lebih banyak dikirim untuk memenuhi kebutuhan ekspor karena memiliki nilai jual yang tinggi.
“Harga layur ukuran besar bisa mencapai Rp130 ribu per kilogram. Bahkan ada jenis ikan Nododuro yang harganya sekitar Rp450 ribu per kilogram, sedangkan mata lebar sekitar Rp200 ribu. Sayangnya karena angin, kami tidak bisa menjangkau lokasi ikan-ikan mahal itu,” ungkapnya.
Selain memengaruhi hasil tangkapan, cuaca buruk juga menjadi pertimbangan utama dalam menjaga keselamatan saat melaut.
“Kalau ombak tinggi, jangan dipaksakan. Lebih baik libur dulu demi keselamatan perahu dan awak,” tegas Suwala.
Biasanya, ketika gelombang terlalu besar, nelayan memilih menghentikan aktivitas melaut selama satu hingga dua hari. Namun selama kondisi laut masih memungkinkan, mereka tetap berangkat meski hasil tangkapan tidak maksimal.
“Kerja tetap jalan. Kendalanya cuma angin yang memang sedang cukup keras,” katanya.
Di tengah tantangan tersebut, Suwala juga mengembangkan usaha kuliner dengan mengolah hasil tangkapan nelayan menjadi berbagai menu khas di warung miliknya, Pade Demen. Hampir setiap pagi, warung tersebut dipadati pembeli yang ingin menikmati sajian ikan segar hasil laut.
Tak hanya cuaca, nelayan juga masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menurut Suwala, proses memperoleh BBM untuk melaut terkadang masih menyulitkan meski seluruh persyaratan administrasi telah dipenuhi.

Baca Juga:  A Worker Who Had Fallen Into the Ayung River was Found Dead

Nelayan kedoanganan siap melaut di tengah cuaca kurang bersahabat

“Harapan kami semoga BBM selalu tersedia dan proses mendapatkannya jangan terlalu rumit. Kalau mau berangkat melaut, kami berharap bisa langsung mendapatkan BBM karena surat-surat kami sudah lengkap. Selama ini kadang masih sering susah mendapatkannya,” harapnya.
Bagi masyarakat pesisir Kedonganan, musim angin timur selalu menghadirkan tantangan. Di balik mahalnya harga ikan dan terbatasnya hasil tangkapan, para nelayan tetap berjuang menjaga pasokan demi memenuhi kebutuhan masyarakat, tanpa mengabaikan keselamatan sebagai prioritas utama. TS-01

Share

Don't Miss

Bertahan Semalaman di Atas Karang

Kutsel, todaysSpil.com Malam panjang penuh ketegangan harus dilalui dua buruh proyek yang terjebak di bawah tebing setinggi sekitar 100 meter di kawasan Pura...

Tiket MotoGP Mandalika 2026 Laris Manis, Early Bird Sold Out dalam Sepekan

Jakarta, TodaysSpill.com Antusiasme masyarakat terhadap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika International Circuit terus meningkat. Seluruh tiket Early Bird dilaporkan habis...

Related Articles

Kripto Dinilai Punya Potensi Besar, Bali Jadi Pasar Strategis Adopsi Web3

Mangupura, todaysSpill.com Perkembangan aset kripto dan teknologi Web3 di Bali dinilai memiliki...

BPJS Ketenagakerjaan Bersama HDCI Perkuat Perlindungan 5.000 Ojol

Ungasan, todaysSpill.com BPJS Ketenagakerjaan terus memperluas perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi pekerja...

Bukan Sekadar Lomba, Pecatu Tanamkan Makna Kemerdekaan kepada Generasi Muda

Pecatu, todaysSpill.com Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta...

Bukan Sekadar Razia Vila, Puspa Negara Dorong Sensus Khusus dan Pembinaan Pelaku Usaha

Kuta, todaysSpill.com Penertiban vila yang diduga belum mengantongi izin di Kabupaten Badung...