Kutuh, todaysSpill.com
Gelak tawa, sorak sukacita, dan gerak tari yang lincah berpadu dalam suasana sakral di Madya Mandala Pura Beji Desa Adat Kutuh, Jumat (10/7/2026). Di tengah rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa, ribuan krama larut dalam prosesi Upacara Nyenuk, sebuah tradisi yang tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga memperlihatkan wajah kebersamaan masyarakat Bali yang penuh kegembiraan.
Prosesi Nyenuk menjadi salah satu momen yang paling dinanti. Bukan karena kemeriahannya semata, tetapi karena tradisi ini menghadirkan perpaduan antara persembahan suci, seni, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.

Krama Desa Adat Kutuh dari empat banjar tampak berjalan beriringan memasuki areal pura. Mereka terbagi dalam lima kelompok dengan busana berwarna putih, kuning, merah, hitam, dan manca warna, masing-masing membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas anugerah dan kelancaran pelaksanaan karya.
Sepanjang perjalanan menuju pelataran pura, setiap kelompok menampilkan gerakan tari yang unik, penuh ekspresi, bahkan sesekali mengundang senyum dan tawa para peserta maupun warga yang menyaksikan. Meski dibalut suasana ceria, setiap gerakan tetap sarat makna sebagai ungkapan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Setibanya di hadapan Ida Dalem Sidakarya, masing-masing kelompok memberikan penghormatan sekaligus menyampaikan maksud kedatangan mereka sebagai simbol penyerahan anugerah hasil bumi dari seluruh penjuru desa.

Manggala Prawartaka Karya, Ketut Gita, menjelaskan bahwa pada Rahina Sukra, 10 Juli 2026, dilaksanakan Upacara Nyenuk sebagai bagian dari rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa di Pura Beji Desa Adat Kutuh.
Menurutnya, seluruh krama dari empat banjar dilibatkan karena pelaksanaan karya ini merupakan manca desa, termasuk melibatkan seluruh prajuru adat.
Dalam rangkaian penganyaran dan penyenukan tersebut, kata Ketut Gita, tersirat makna penganugerahan Ida Bhatara Sesuhunan Manca Desa atau Manca Bhuwana. Ida memberikan wara nugraha yang diwujudkan melalui persembahan berbagai hasil bumi, seperti pala bungkah dan pala gantung, sebagaimana tertuang dalam sastra agama Hindu.
Prosesi tersebut disambut oleh Ida Sang Sidakarya selaku pengrajeg karya melalui dialog simbolis sebagai bentuk penerimaan atas panugrahan yang datang dari berbagai wilayah.

Upacara Nyenuk dipuput oleh Ida Pandita Empu, serta dihadiri Tri Sadhaka yang terdiri atas Siwa, Buddha, dan Bujangga. Setelah prosesi Nyenuk selesai, rangkaian karya dilanjutkan dengan upacara Nyegara Gunung dan Meajar-ajar.
Lebih jauh, Ketut Gita berharap seluruh masyarakat tidak hanya menyaksikan kemeriahan prosesi, tetapi juga memahami makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, pelaksanaan yadnya tidak boleh berhenti sebagai sebuah ritual atau tontonan semata. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh krama Desa Adat Kutuh.
Karena itu, seluruh unsur masyarakat dilibatkan, mulai dari krama adat, masyarakat dinas, prajuru adat, hingga paiketan pemangku. Keterlibatan bersama ini diharapkan mampu menumbuhkan pemahaman bahwa Upacara Nyenuk merupakan warisan leluhur yang wajib dijaga dan dilestarikan.
“Harapan kami, makna pelaksanaan yadnya ini benar-benar meresap ke dalam sukma sarira seluruh krama sehingga menjadi kekuatan batin sebagai umat Hindu Bali,” ujar Ketut Gita.

Semangat kebersamaan itulah yang tampak begitu kuat sepanjang prosesi. Di balik tarian yang unik dan mengundang tawa, tersimpan filosofi mendalam tentang rasa syukur, persatuan, serta penghormatan kepada warisan leluhur yang terus hidup di tengah masyarakat Desa Adat Kutuh. TS-01