Badung, todaysSpill.com
Asap dupa mengepul perlahan dari pelinggih di Pura Desa lan Bale Agung, Desa Adat Kutuh, Jumat (5/9/2025). Udara pagi terasa hangat, bercampur dengan wangi bunga canang yang tertata rapi di setiap sudut pura. Umat berdatangan mengenakan busana adat serba putih, membawa sesajen, dan menyiapkan diri mengikuti Upacara Mapepade Wewalungan serangkaian Karya Ngenteg Linggih lan Padudusan Agung di pura tersebut.


Di tengah suasana khusyuk itu, dua sosok yang akrab bagi masyarakat Bali turut hadir, yakni Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, dan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa. Mereka ikut duduk bersila bersama umat, memanjatkan doa dengan penuh ketulusan.
Hadir pula dalam momen istimewa ini Wakil Ketua DPRD Bali, I Wayan Disel Astawa dan Anggota DPRD Badung, I Made Sumerta dan I Made Tomy Martana Putra serta Camat Kutsel, I Ketut Gede Arta dan undangan lainnya.
Usai sembahyang, keduanya menyerahkan punia, Rp 25 juta dari Wagub Giri Prasta dan Rp 20 juta dari Bupati Adi Arnawa diterima Prawartaka Karya, I Ketut Gita, dan Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir. Namun lebih dari sekadar angka, pemberian itu adalah simbol dukungan nyata bagi krama yang menggelar karya besar ini secara swadaya.
“Pura ini bisa berdiri megah berkat bantuan pemerintah saat Pak Giri Prasta masih menjabat sebagai bupati. Komitmen beliau terhadap adat dan budaya tidak pernah luntur,” ujar Bendesa Adat Jro Nyoman Mesir didampingi Prawarta Karya.

Dalam dharma wacana singkatnya, Bupati Arnawa mengajak umat memaknai karya ini sebagai wujud subakti kepada Ida Betara. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup lewat konsep Tri Hita Karana, harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. “Kalau harmoni itu terjaga, kedamaian pasti hadir,” katanya.

Sementara itu, Giri Prasta mengingatkan perjalanan panjang Desa Kutuh yang dahulu menyatu dengan Desa Ungasan. Kini, Kutuh telah berdikari, bahkan pernah meraih prestasi sebagai Juara Lomba Desa Tingkat Nasional. “Kebersamaan ini harus terus diwariskan. Desa Kutuh sudah membuktikan diri bisa mandiri, dan semoga ini jadi teladan bagi generasi berikutnya,” ucapnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung harapan masyarakat untuk penataan Pura Dang Kahyangan Gunung Payung. Dengan yakin, Giri Prasta menyebut Bupati Badung akan memperhatikan aspirasi tersebut.

Karya Ngenteg Linggih dan Padudusan Agung di Desa Kutuh sejatinya adalah ruang perjumpaan antara doa dan budaya, antara krama dan pemimpin, antara masa lalu yang diwariskan leluhur dan masa depan yang sedang dibangun. Di sinilah gotong royong, subakti, dan persatuan menemukan wujudnya.
Rangkaian karya masih berlanjut. Setelah Tawur Walik Sumpah dan Mapepade Wewalungan, umat akan menggelar Melasti pada Sabtu (6/9/2025), sebelum puncak Karya pada Senin (8/9/2025). Setiap tahap Karya yang disambut antusias krama ini adalah pengingat bahwa adat dan budaya Bali tetap kokoh, karena dijaga bersama dengan hati yang tulus. TS-01