Home Bali Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam
BaliBudayaInternasional

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

Oleh: Dr.I Made Pria Dharsana, S.H. M.Hum

Share
Dr.I Made Pria Dharsana, S.H. M.Hum
Dr.I Made Pria Dharsana, S.H. M.Hum
Share

Momentum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak biasa. Dunia sedang berada dalam pusaran ketegangan geopolitik, perang Rusia dengan Ukraina belum jelas kapan selesai, ketegangan antar negara di kawasan Indo Cina, sekarang muncul perang yang lebih besar dengan diserangnya Iran oleh Amerika Serikat besama Israel, yang sudah memasuki minggu ketiga .
Dampak perang ini menyebabkan krisis energi, disrupsi informasi, hingga konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis.
Hingga awal Maret 2026, konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakstabilan, termasuk ancaman terhadap jalur energi global dengan ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi. tentu sangat berdampak pada ketercukupan energi bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah efisiensi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah, bagi kepentingan nasional.
Serangan  Amerika dan Israel tanggal 28 Februari 2026 menyebabkan  kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Iran kemudian membalas serangn AS dan Israel, Iran menyerang semua fasilitas Amerika di negara-negara teluk. Rivalitas kekuatan besar pun terus meningkat, memperkuat fragmentasi global.

Keheningan Nyepi Jadi Refleksi

Di tengah kebisingan perang dan korban tewas , hancurnya fasilitas dinegara tidak saja di negara teluk teluk tersebut, tetapi dirasakan oleh banyak negara yang mengantungkan pasokan minyak dari timur tengah.  Nyepi justru menawarkan diam—kontemplasi, sebuah sikap yang tampak sederhana, namun sesungguhnya radikal. Keheningan Nyepi menjadi refleksi mendalam bahwa akar konflik tidak semata terletak pada kepentingan negara, tetapi juga pada kegagalan manusia mengelola ego, ambisi, dan keserakahan.
Dalam praktik Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan—terdapat filosofi pengendalian diri yang menjadi fondasi peradaban damai. Nilai ini menemukan relevansinya ketika dunia modern justru bergerak dalam arus sebaliknya: serba cepat, reaktif, dan penuh pertarungan kepentingan meningkatkan kemajuan ekonomi , pendidikan setiap negara termasuk meningkatnya perlombaan persenjataan untuk pertahanan masing-masing negara. Namun justru sebaliknya, kemajuan dan modernitas sembuah negara malah menjadi ancaman bagi negara lain. dan itlah yang terjadi.

Baca Juga:  Gempa M 4,3 Guncang Kuta

Pentingnya Toleransi dan Persatuan

Di tengah berkecamuknya perang, ketegangan geopolitik, layak kita bercermin kepada Swami Vivekananda, seorang filsuf dan spiritualis India, saat menghadiri Parlemen Agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Saat itu, Beliau menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang pentingnya toleransi dan persatuan antaragama. Jika pun perang yang berkecamuk sekarang ini bukan didasarkan atas agama. apapun yang mendasarinya. Perang akan menghancurkan semua.
Dasar pemikiran Swami Vivekananda adalah: Semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, Perbedaan agama adalah seperti perbedaan jalan menuju puncak gunung yang sama, Toleransi dan saling menghormati adalah kunci untuk mencapai persatuan dan kedamaian dunia.
Dalam konteks perang dan konflik di belahan dunia saat ini, pesan Swami Vivekananda tentang toleransi, kasih sayang, dan persatuan antaragama masih sangat relevan.
Menariknya  apa yang disampaikan Swami Vevekananda dengan apa yang dilalui, Nyepi Tahun Baru Caka 1948 tanggal 19 Maret 2026 ini berdekatan dengan Ramadan, serta dalam rentang waktu yang tidak jauh dari Hari Raya Imlek dan Rabu Abu. Pertemuan momentum lintas iman ini memperkuat pesan universal tentang pentingnya refleksi, pengendalian diri, dan harmoni sosial—sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam satu ruang eksistensi yang sama.

Satu Bumi, Satu Keluarga

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam pernyataannya pada 1 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa kebersamaan lintas agama menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terfragmentasi, dengan menekankan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan merupakan satu kesatuan “satu bumi, satu keluarga” (pernyataan resmi Kemenko PMK, 1 Maret 2026). Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik fisik, tetapi juga kebisingan informasi berupa hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi realitas digital, sehingga diperlukan kembali pada nilai mulat sarira—introspeksi diri dalam tradisi Jawa—sebagai jalan menjernihkan kesadaran (Kemenko PMK RI, 2026).
Pandangan tersebut diperkuat oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, I Gede Dwipayana, yang menilai tema Saka Bhoga Sevanam sebagai refleksi etika pelayanan universal. Istilah ini, yang berakar dari bahasa Sanskerta, mengandung makna bahwa menikmati anugerah kehidupan (bhoga) tidak dapat dipisahkan dari tindakan melayani (sevanam).
Dengan kata lain, kehidupan menemukan maknanya justru ketika manusia tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelayan bagi sesama. Ia menegaskan bahwa melayani sesama merupakan bentuk konkret pengabdian kepada Tuhan sekaligus fondasi ketahanan sosial bangsa di tengah tekanan global (Kantor Staf Presiden, 2026). Dalam konteks geopolitik yang sarat kompetisi dan konflik, nilai pelayanan ini menjadi antitesis terhadap egoisme kolektif yang kerap memicu krisis kemanusiaan.
Satu hal penting lain yang disampaikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster bahwa Nyepi tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekologis, di mana penghentian total aktivitas selama Nyepi terbukti mampu menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi cahaya, serta memberi ruang pemulihan bagi alam (Pemerintah Provinsi Bali, rilis resmi 2025–2026).

Baca Juga:  Nuanu Creative City Officially Opens, Bali’s First Sustainable Creative City

Kerarifan Lokal Berkontribusi Solusi Global

Dalam perspektif global yang tengah menghadapi krisis iklim, praktik ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada solusi global.
Lebih jauh, Nyepi juga mencerminkan praktik toleransi yang nyata. Di Bali, seluruh aktivitas termasuk bandara, pelabuhan, dan lalu lintas dihentikan, dan hal ini dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama. Fenomena ini menjadi cerminan harmoni sosial yang langka di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Sebaliknya, dalam Ramadan, semangat berbagi dan solidaritas sosial juga melintasi batas identitas, memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual pada dasarnya bersifat universal.
Jika ditarik lebih dalam, Nyepi dan Ramadan memiliki irisan nilai yang kuat. Nyepi mengajarkan keheningan total, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa. Keduanya menempatkan manusia dalam posisi reflektif menahan diri dari dorongan eksternal demi mencapai keseimbangan internal. Dalam konteks dunia yang penuh agresi dan kebisingan, nilai ini menjadi sangat relevan dan bahkan mendesak. Tema Saka Bhoga Sevanam kemudian memperluas makna tersebut. Ia tidak berhenti pada refleksi individu, tetapi mendorong aksi sosial: melayani sesama, menjaga alam, dan membangun harmoni lintas iman. Ini menjadi penting ketika dunia menghadapi krisis multidimensi—mulai dari konflik bersenjata, krisis energi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi.

Nyepi Sebagai Kritik Peradaban

Intinya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kritik peradaban. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kemampuan untuk berhenti sejenak. Dalam diam, manusia diajak untuk mendengar kembali suara hati sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan global. Momentum Nyepi  tahun Baru Caka 1948 ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa di tengah dunia yang retak oleh konflik dan kepentingan, masih ada jalan lain: jalan keheningan, refleksi, kontemplasi menyelam dikedalaman jiwa untuk menemukan mutiara yang terang dalam diri . Jalan yang mengingatkan bahwa manusia, pada hakikatnya, hidup dalam satu ruang yang sama satu bumi, satu keluarga. TS-01

Baca Juga:  Is This the Beginning of the End of the Internet?
Share

Don't Miss

Badung Borong Gelar Juara Turnamen Kriket Piala Bupati

Jimbaran, todaysSpill.com Tim kriket Kabupaten Badung menunjukkan dominasinya dalam Turnamen Kriket Piala Bupati Badung yang berlangsung di Lapangan Kriket Universitas Udayana (Unud), Jimbaran,...

Rip Curl Cup Ke-23 Jadi Panggung Peselancar Indonesia Unjuk Gigi di Kelas Dunia

Pecatu, todaysSpill.com Rip Curl Cup Padang Padang bukan sekadar kompetisi selancar internasional, tetapi telah menjadi panggung yang membuka jalan bagi peselancar Indonesia untuk...

Related Articles

HUT ke-57 ST Dharma Pertiwi Pecatu Berlangsung Meriah, Dimeriahkan KISS BAND, Oka Liku x Gek Rempong hingga DJ Performance

Pecatu, todaysSpill.com Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 Sekaa Teruna (ST) Dharma...

Dirjen Kemendagri Kagumi Inovasi Desa Pecatu, Layak Jadi Contoh Nasional

Pecatu, TodaysSpill.com Inovasi Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, dalam mengolah sampah...

Air Mata dan Doa untuk Korban Bom BaliGround Zero Tempat Duka dan Harapan Perdamaian Bertemu

Kuta, todaysSpill.com Air mata tak terbendung ketika bunga diletakkan untuk mengenang para...

ITDC and BSI Strengthen the Role of Nurul Bilad Mosque as a Center for Worship and Social Life in The Mandalika

The Mandalika, todaysSpill.com PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero), also known as InJourney...