Home Budaya Pecatu Gelar Lomba Bulan Bahasa Bali ke-8 dan Utsawa Dharma Gita 2026
BudayaSeni

Pecatu Gelar Lomba Bulan Bahasa Bali ke-8 dan Utsawa Dharma Gita 2026

Disambut Antusias Peserta dan Warga

Share
Foto Istimewa Pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-8 dan Utsawa Dharma Githa tahun 2026 di Desa Adat Pecatu berlangsung meriah dan penuh semangat.
Foto Istimewa Pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-8 dan Utsawa Dharma Githa tahun 2026 di Desa Adat Pecatu berlangsung meriah dan penuh semangat.
Share

Pecatu, todaysSpill.com
Komitmen menjaga eksistensi bahasa dan sastra Bali di tengah derasnya arus modernisasi kembali ditegaskan Desa Adat Pecatu melalui pelaksanaan Lomba Bulan Bahasa Bali ke-8 yang dirangkaikan dengan Utsawa Dharma Gita 2026, Minggu (22/2/2026). Kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan gerakan kolektif yang melibatkan generasi muda sebagai pilar utama pelestarian budaya.
Pembukaan kegiatan dilakukan langsung oleh Perbekel Pecatu, Made Karyana Yadnya, dan mendapat sambutan antusias dari peserta maupun masyarakat berbagai banjar. Sejak pagi, suasana penuh semangat terlihat dari para peserta yang didominasi kalangan pelajar dan perwakilan banjar.
Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta, menegaskan bahwa sinergi desa adat dan desa dinas menjadi fondasi kuat dalam menjaga warisan bahasa ibu. Terlebih, sekolah-sekolah di Desa Pecatu turut aktif mendorong siswa untuk ambil bagian dalam lomba.

Baca Juga:  Catus Pata Bergemuruh, Parade Ogoh-Ogoh Bualu Diserbu Wisatawan

“Bulan Bahasa Bali bukan hanya agenda tahunan, tetapi ruang pembinaan karakter generasi muda agar bangga menggunakan bahasa Bali. Jika anak-anak kita tidak lagi menggunakan bahasa daerah, maka identitas kita perlahan akan memudar,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Bali dan secara konsisten dilaksanakan sejak pertama kali dicanangkan. Ke depan, kualitas kegiatan diharapkan terus meningkat, baik dari sisi pembinaan maupun partisipasi.
Ketua Panitia, Nyoman Taka, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini melibatkan delapan baga, terdiri atas lima baga tingkat banjar dan tiga baga dari sekolah dasar se-Desa Pecatu. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa Bali dimulai dari akar rumput.
Pendanaan kegiatan bersumber dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali, dukungan Perbekel Pecatu, serta kas Desa Adat Pecatu sesuai keputusan desa adat.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi momentum introspeksi sekaligus motivasi untuk memperdalam sastra agama dan sastra Bali. Pembinaan harus berkelanjutan agar kecintaan terhadap bahasa Bali tumbuh secara alami,” jelasnya.
Di tengah posisi Pecatu sebagai kawasan pariwisata internasional, pelestarian bahasa dan sastra Bali dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya lokal. Bahasa Bali bukan hanya alat komunikasi, tetapi roh kebudayaan yang menjadi daya tarik Bali di mata dunia.
Perbekel Pecatu, Made Karyana Yadnya, menambahkan bahwa pembinaan generasi muda tidak hanya dilakukan saat Bulan Bahasa Bali, tetapi telah berjalan secara berjenjang melalui kelian tempek, sekaa teruna, hingga kelompok masyarakat lainnya.

Baca Juga:  Meriah dan Sakral, Kebersamaan dalam Prosesi Nyenuk di Desa Adat Kutuh

“Pembinaan dilakukan dari hulu hingga hilir. Jadi ketika lomba digelar, masyarakat sudah siap dan antusias. Ini proses panjang, bukan kegiatan instan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Widya Sabha Desa Adat Pecatu, Nyoman Diana, mengungkapkan bahwa sebelum perlombaan, pembinaan intensif telah dilakukan di setiap banjar dan sekolah. Bahkan, penyuluh Provinsi Bali yang membidangi nyurat aksara Bali turut dilibatkan.
Ia berharap, hasil kegiatan ini tidak berhenti di panggung lomba, melainkan benar-benar diterapkan dalam kehidupan adat sehari-hari.
“Output yang kami harapkan adalah semakin kuatnya penggunaan sastra Bali dalam kegiatan adat. Inilah bagian dari upaya mengajegkan adat dan budaya Bali melalui penguatan bahasa dan sastra,” pungkasnya.
Melalui Bulan Bahasa Bali dan Utsawa Dharma Gita 2026, Desa Adat Pecatu kembali membuktikan bahwa di tengah geliat pariwisata global, akar budaya tetap dijaga dan generasi muda menjadi penjaganya. TS-01

Share

Don't Miss

Bertahan Semalaman di Atas Karang

Kutsel, todaysSpil.com Malam panjang penuh ketegangan harus dilalui dua buruh proyek yang terjebak di bawah tebing setinggi sekitar 100 meter di kawasan Pura...

Tiket MotoGP Mandalika 2026 Laris Manis, Early Bird Sold Out dalam Sepekan

Jakarta, TodaysSpill.com Antusiasme masyarakat terhadap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika International Circuit terus meningkat. Seluruh tiket Early Bird dilaporkan habis...

Related Articles

Bukan Sekadar Lomba, Pecatu Tanamkan Makna Kemerdekaan kepada Generasi Muda

Pecatu, todaysSpill.com Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta...

KSP Subhakti Ungasan Marks 24th Anniversary as a Launching Point

Ungasan, todaysSpill.com The 24th Anniversary of KSP Subhakti Ungasan (Subhakti Ungasan Savings...

Nyegara Gunung di Pantai Pandawa Jadi Magnet Wisata Budaya

Kutuh, todaysSpill.com Pantai Pandawa kembali menghadirkan pemandangan berbeda. Bukan hanya panorama pantai...

Keceriaan Warga Iringi Prosesi Nyenuk di Pura Beji Kutuh

Kutuh, todaysSpill.com Gelak tawa, sorak sukacita, dan gerak tari yang lincah berpadu...