Home Budaya Seru, Siat Yeh di Bawah Guyuran Hujan
Budaya

Seru, Siat Yeh di Bawah Guyuran Hujan

Banjar Teba Jimbaran Komit Lestarikan Tradisi

Share
Hujan: Warga Banjar Teba, Jimbaran tampak antusias melaksanakan tradisi Siat Yeh di bawah guyuran hujan.
Hujan: Warga Banjar Teba, Jimbaran tampak antusias melaksanakan tradisi Siat Yeh di bawah guyuran hujan.
Share

Mangupura, todaysSpill.com
Tradisi Siat Yeh atau perang Air, yang digelar warga Banjar Teba, Jimbaran, Kuta Selatan (Kutsel), Minggu (30/3/2025) berjalan lancar dan seru. Meski di bawah guyuran hujan tidak menghalangi semangat warga melaksanakan tradisi unik ini. Terutama kalangan remaja dan anak-anak yang terpantau sangat antusias menyambut prosesi tahunan ini.

Baca Juga:  Tumpek Uye di Uluwatu Jadi Praktik Nyata Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Tri Hita Karana

Tradisi Siat Yeh ini sendiri merupakan rekonstruksi kebiasaan masyarakat Jimbaran di masa lalu yang tetap dilestarikan hingga saat ini dan digelar sehari setelah Nyepi atau saat “,Ngembak Geni”.
Tadisi ini diawali dengan prosesi “mendak toya” di pantai barat dan pantai timur Jimbaran.
Dimana Ibu-ibu dari Banjar Teba, Jimbaran beriringan menjunjung kendi dari tanah liat berjalan beriringan menuju Pantai atau Segara diiringi remaja dan anak-anak di belakangnya. Mereka berjalan menuju pantai sisi Barat yang merupakan Pantai Jimbaran dan Pantai sisi Timur desa setempat yang merupakan kawasan rawa-rawa Teluk Benoa untuk “mendak toya” atau mengambil air.

Baca Juga:  Bupati Secara Resmi Buka PKB Ke-47 Kabupaten Badung

Selanjutnya mereka kembali ke lokasi  acara sambil bernyanyi nyanyi.
Selanjutnya air yang dibawa dari dua sisi pantai tersebut dijadikan satu sebelum dimulainya Siat Yeh atau saling lempar air dari warga yang sudah dibagi dalam dua kelompok ini.
Hadir membuka acara ini Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung didampingi Camat Kuta Selatan, Lurah Jimbaran, Danru Pol.PP Kuta Selatan serta tokoh masyarakat Jimbaran lainnya.
Dua kubu dari sisi timur dan barat ini selanjutnya saling lempar air menggunakan sendok dari batok kelapa.
Menurut Kelian Adat Banjar Teba, I Wayan Eka Santa Purwita, didampingi Kaling Teba, Wayan Arnawa pelaksanaan tradisi Siat Yeh ini juga sebagai simbol upacara penglukatan atau penyucian.
“Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang kami harapkan mampu meningkatkan kualitas diri serta menjadi dasar untuk kehidupan yang lebih baik,”ujarnya seusai kegiatan.

Baca Juga:  Pralingga Ida Batara Pura Lingga Bhuwana Melasti ke Segara Batu Bolong

Eka menambahkan, Tradisi Siat Yeh ini sudah digelar sebanyak 6 kali sejak direkonstruksi kembali dari kehidupan masyarakat Jimbarana jaman dulu. Saat ini Siat Yeh juga sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Karenanya dengan menyandang status ini tentu pihaknya di Banjar Teba Desa Adat Jimbaran ini akan terus bertanggung jawab yakni rutin menggelar tradisi ini setiap tahun secara berkelanjutan. Tentu tantangan yang dihadapi ke depan tidaklah ringan. Terutama bagaimana untuk terus menumbuhkan antusias masyarakat dan semua masyarakat di jimbaran bisa ikut serta menjalankan tradisi ini secara bersama-sama.

Foto:IstSiat Yeh: Kadisbud Badung bersama Camat Kutsel saat membuka pelaksanaan tradisi Siat Yeh di Banjar Teba, Jimbaran.
Foto:Ist
Siat Yeh: Kadisbud Badung bersama Camat Kutsel saat membuka pelaksanaan tradisi Siat Yeh di Banjar Teba, Jimbaran.

“Momen ini tidak hanya sebagai sarana pelestarian seni dan budaya, namun juga wadah untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan di antara warga. Masyarakat sangat mendukung, apapun kegiatan yang sudah disepakati tentu menjadi tanggung jawab kami untuk menjalankanya,” ucapnya.
Eka Santa lebih jauh menjelaskan jalannya prosesi Siat Yeh ini diawali dengan mengambil air di dua sumber air berbeda. Yakni di Pantai Suwung atau Rawa di sebelah Timur, dan pantai Segara di sebelah Barat Jimbaran.
“Air yang diambil dari dua sumber berbeda ini lah yang kamk satukan sebagai sarana melukat dalam tradisi siat yeh. Karena Siat yeh ini menjadi sarana melukat untuk menghilangkan hal-hal buruk yang ada dalam diri manusia,” paparnya sembari menambahkan, prosesi ini sejalan dengan pelaksanaan Catur Brata Nyepi saat perayaan hari raya Nyepi. Dimana masyarakat saat itu sudah mulat sarira atau mengintrospeksi diri.
“Nah di hari ngembak geni ini, dilanjutkan dengan pangelukatan atau pembersihan yang disimbolkan dengan siat yeh,” ucap Eka.
Warga terutama kalangan remaja dan anak-anak tampak sangat antusias menyambut momen berharga ini. Tanpa kenal lelah mereka terus saling melempar air hingga acara usai dan dilanjutkan kegiatan seremonial di banjar tersebut. TS-01

Share

Don't Miss

Pengguna Tol Bali Mandara Tembus 20 Juta Kendaraan Nyepi Tutup 32 Jam

Kuta, todaysSpill.com Jumlah kendaraan yang melintas di Jalan Tol Bali Mandara terus meningkat. PT Jasamarga Bali Tol (PT JBT) mencatat sepanjang tahun 2025...

Pencurian Meteran Air Marak di Kutuh

Kutsel, todaysSpill.com Aksi pencurian meteran air kembali meresahkan warga di wilayah Kuta Selatan. Dalam beberapa waktu terakhir, puluhan meteran air milik masyarakat di...

Related Articles

Bupati Badung Nodya Karya Maligia Punggel di Griya Agung Banjar Aseman  

Mangupura, todaysSpill.com Komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam meringankan beban masyarakat kembali ditunjukkan...

Collaborative Effort to Protect Bali’s Rice Fields Owl Release Becomes Natural Solution to Control Rats in Bongkasa

Bongkasa, todaysSpill.com Efforts to preserve the environment and protect Bali’s agricultural landscape...

Disuport Desa Adat Bualu, Warga Celuk Gaspol Tangani Sampah dari Sumber

Nusa Dua, todaysSpill.com Perubahan besar dalam penanganan sampah di Kuta Selatan ternyata...

Karya Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa di Banjar Adat Uma Kapal  

Mangupura, todaysSpill.com Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menghadiri rangkaian upacara Karya...